Blogger templates

Pages

07 September 2012

Antara Otak, Hati, dan Motivasi | Pemikiranku


Sabtu, 1 September 2012. Ba’da Subuh.

Alhamdulillah, hari ini setelah merasakan nikmatnya sholat subuh, saya bisa sedikit menuangkan kejenuhan dalam beberapa patah kata pada tulisan ini.

Jam 1 dini hari tadi, saya terbangun. Bukan karena apa-apa tapi karena memang jam 9 malam saya sudah tertidur karena kecapekan. Saya pun memutuskan untuk melanjutkan tidur karena masih terlalu dini. Tapi tiba-tiba cegukan yang tidak berhenti mencegah saya untuk tidur. Setelah membeli minum sebagai obat cegukan, saya pun kembali berbaring untuk tidur. Sama sekali tak terlintas pikiran untuk melakukan aktivitas lain.

Detik, menit, dan jam saya habiskan hanya bergulang-guling di atas kasur. Saya tak dapat memejamkan mata. Hingga terdengar adzan subuh yang berkumandang. Karena dasarnya saya orang yang masih terhitung ‘bodoh’ dalam urusan agama, saya pun berpikir setelah adzan pasti bisa tidur. Ya, hal itu yang langsung terlintas. Sungguh pikiran dari seorang yang sangat sangat ‘bodoh’.

Adzan subuh selesai berkumandang, saya coba memejamkan mata. Namun, setelah iqomah terdengar, tiba-tiba ada sesuatu yang terlintas di pikiran saya. Sesuatu yang seharusnya dilakukan oleh seorang muslim : Sholat! Saya berpikir, kan sudah waktunya sholat subuh, kenapa saya tidak sholat subuh saja? Aneh memang. Sebuah pikiran yang sebenarnya ‘telat’ untuk saya sadari. Namun tak berhenti di situ. Kembali otak saya mengambang dalam sebuah konsep logika. Dalam sebuah kesempatan, saya pernah membuat sebuah alur kerja bagaimana seorang manusia mengambil keputusan, bagaimana sistem pengambil keputusan pada tubuh manusia bekerja. Yaitu hubungan antara organ tubuh, penginderaan, otak, dan pikiran, ditambah dengan satu organ kasat mata, hati.

Konsep logika yang saya dapatkan ini saya analogikan dengan konsep logika pada pemrosesan instruksi pada mikroprosesor komputer.
- Penginderaan, sebagai Input, tempat semua masukan baik input visual berupa penglihatan dari mata, audio berupa suara dari telinga, dan semua input dari penginderaan manusia lainnya.

- Otak, sebagai Memory Unit Processor, tempat menyimpan semua instruksi aktivitas yang akan diproses.

- Pikiran, sebagai Arithmatic Logic Unit, tempat di mana semua instruksi aktivitas tersebut diproses berdasarkan logika eksekusi instruksi pemikiran yang ada.

- Organ Tubuh, sebagai output, keluaran semua hasil instruksi yang telah diproses dan tinggal dilaksanakan sesuai hasil pemrosesan.

Lalu, bagaimana dengan hati? Saya meletakkan hati sebagai penentu, apakah instruksi yang ada di Otak akan diproses oleh Pikiran atau tidak. Dan apakah hasil pemrosesan tersebut akan dilaksanakan oleh Organ Tubuh atau tidak.

Berdasarkan konsep ini, saya dapat berasumsi bahwa Hati memiliki kontrol penuh atas semua tindakan manusia. Apa yang manusia tangkap dari lingkungannya dan bagaimana reaksi manusia terhadap aksi yang ditangkap dari lingkungannya. Itu berarti otak manusia akan penuh dengan instruksi-instruksi dan logika ya/tidak yang begitu banyak. Namun, Hati dari manusia itu yang akan menentukan instruksi-instruksi mana yang akan diolah dan logika mana yang akan dipakai, dan reaksi apa yang akan dilakukan oleh tubuh.

Berikut contoh analogi pada kasus saya :

Mendengar adzan subuh, saya pun mempersiapkan diri dan kemudian melaksanakan sholat. Namun sebelumnya, ada sebuah ganjalan yang mencegah saya untuk sholat. Ajakan dan ganjalan itu ada di hati saya. Padahal sudah jelas bahwa otak dan pikiran saya sudah ada instruksi untuk melaksanakan sholat subuh. Pada akhirnya, hati saya memberikan perintah agar mengeksekusi instruksi sholat subuh.
- Input audio : adzan subuh.

- Instruksi pada otak : sholat subuh.

- Decision pada hati : ya, laksanakan sholat.

Dan kemudian saya bergegas melaksanakan sholat subuh.....

~setelah sholat subuh~

Selesai melaksanakan sholat, saya pun memulai menulis tulisan ini. Dan, ada satu hal yang cukup mengganjal di ruang pikir dalam otak saya. Darimana hati menentukan mana instruksi yang akan diolah dan logika yang akan dipakai apabila Hati memiliki kontrol pada penentuan keputusan ini? Keraguan pun muncul, apakah konsep yang saya dapatkan tersebut salah..

Pada akhirnya, saya pun mengambil hipotesis yang sebenarnya saya sendiri masih ragukan benar tidaknya :

Memang benar hati manusia adalah pusat dari segala tindakan yang akan dilakukan oleh manusia. Bagaimana hati tersebut melakukan tugasnya sebagai Decision Maker pada tindakan manusia, apakah menjalankan yang Baik atau yang Buruk adalah berdasarkan bagaimana kedekatan hati itu dengan Tuhan Yang Maha Baik. Semakin dekat, maka hati itu akan lebih banyak menyimpan logika dan rangkaian keputusan baik sehingga tubuh pun akan ‘terbiasa’ berbuat hal baik. Namun, apabila jauh dari Tuhan, maka akan menjadi sebaliknya.

Saya sadar, memang terlalu dini bagi saya untuk berpikir tentang hal itu. Oleh karena itu, saya mohon maaf atas kekhilafan saya atas kesalahan tulisan ini. Karena saya hanyalah makhluk bodoh yang masih sering terombang-ambing oleh dunia dan masih harus banyak belajar tentang bagaimana dapat menjadi dekat dengan Tuhan.

Terlepas dari benar atau tidaknya pemikiran saya tersebut, saya ingin menyampaikan pesan : Mari tetap mendekat pada Tuhan, agar hati menjadi baik dan kita terbiasa berbuat baik. Tuhan telah menunjukkan jalan-Nya pada kita, dan kita sendiri yang harus berjalan di jalan yang telah ditunjukkan itu. Keep on Track, dan kita akan mencapai surga-Nya.... ^^

0 comments:

Post a Comment

Abis baca artikelnya, kasih komentar ya.. Supaya artikel selanjutnya bisa lebih bagus... ^^

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...